Selasa, 07 Maret 2023

EAS Isu Ekonomi dan Makro Ekonomi Global

UNIVERSITAS TEKNOLOGI DIGITAL BANDUNG


FAKULTAS

MANAJEMEN INOVASI

WINDY YULIANTI, S.P.

NPM. 1052006


PERANAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL

ABSTRAK

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya memiliki karakter atau bila sebagai muslim memiliki akhlakul karimah dan dapat hidup mandiri dengan lebih baik. Globalisasi yang melanda dunia saat ini memberi begitu banyak perubahan, Pada generasi milenial ini mereka tengah telah memasuki revolusi digital. Penggunaan Internet, big data, cloud database, blockchain, dan lain-lain akan mengubah pola kehidupan manusia baik dari balita bahkan sampai kaum muda dan tua sekalipun.

Pemanfaatan teknologi secara baik menjadikan kunci utama dalam nilai karakter peserta didik. Karena walaupun banyak dampak positif dari tenologi tapi tidak sedikit juga dampak negatifnya. Bahkan dampak negatifnya lebih merusak aspek kebangsaan yang beragam di Indonesia. Dan yang menjadi turunnya moral, ilmu pengetahuan yang kurang, bahkan karakter pada peserta didik adalah karena penyimpangan penggunaan teknologi dan internet. Sehingga untuk itu diperlukan pendidikan karakter yang memfokuskan aspek moral yang telah mengalami degradasi belakangan ini. Pendidikan karakter sendiri adalah suatu proses penerapan nilai-nilai moral maupun agama pada peserta didik melalui ilmu pengetahuan, untuk diterapkan baik terhadap diri sendiri, sesama teman, terhadap pendidik dan lingkungan sekitar maupun Tuhan Yang Maha Esa..      

Pada akhirnya pengawasan oleh guru maupun orang tua menjadi peran utama dalam mendidik karakter anak di indonesia, agar bisa menghasilkan generasi penerus yang unggul dan berkarakter atau berakhlakul karimah. Terkait dengan itu juga, peranan pemerintah yang mendukung pengimplementasian pendidikan karakter akan sangat membantu percepatan untuk keberhasilan tujuan dari pendidikan karakter ini.

ABSTRACT

               Education is one of the efforts to improve the ability of human resources so that they have character or as Muslims have good morals and can live independently better. Globalization that is currently sweeping the world has brought so many changes. In this millennial generation, they are entering the digital revolution. The use of the Internet, big data, cloud databases, blockchain, and others will change the pattern of human life, from toddlers to even the young and old.

               The good use of technology is the main key in the character values ​​of students. Because even though there are many positive impacts from technology, there are also not a few negative impacts. In fact, the negative impact is more detrimental to the various aspects of nationality in Indonesia. And the decline in morale, lack of knowledge, even the character of students is due to irregularities in the use of technology and the internet. So for that we need character education that focuses on moral aspects that have been degraded lately. Character education itself is a process of applying moral and religious values ​​to students through science, to be applied both to themselves, to fellow friends, to educators and the surrounding environment and to God Almighty.

               In the end, supervision by teachers and parents becomes the main role in educating the character of children in Indonesia, so that they can produce the next generation who is superior and has good character or good morals. Also related to that, the government's role in supporting the implementation of character education will greatly help accelerate the success of the goals of this character education.

 


 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Tujuan

Generasi muda dari suatu negara menjadi penentu maju mundurnya negara tersebut.. Perkembangan teknologi akibat dari globalisasi ini menjadikan segala aspek mengalami digitalisasi, sehingga era sekarang ini dinamakan era digital. Dan generasi muda sekarang ketergantungannya terhadap teknolgi sangatlah tinggi. Segala sesuatu dalam kesehariannnya senantiasa menggunakan teknologi, baik itu tugas sekolah bahkan main pun lebih seru menggunakan teknologi. Tiada hari tanpa teknologi, mungkin itu slogan yang tepat bagi generasi masa kini atau anak zaman now.

Namun ternyata dari fakta yang terjadi dengan adanya digitalisasi sangat banyak dampaknya mempengaruhi pola pikir, sikap, bahkan perilaku generasi muda. Ada dampak negatif maupun dampak positifnya. Dampak yang semakin melingkupi kehidupan generasi muda dan otomatis negara juga. Karena hal itulah, perlu adanya perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat umunya, dan khusunya adalah keluarga dalam hal ini orang tua.

Dampak negatif yang dirasakan di era digital ini adalah banyaknya bermunculan kasus destruktif dalam konteks kebangsaan, misalnya terjadi sentimen antar etnis, perselisihan antar suku, kasus narkoba, tawuran antar pelajar, kekerasan terhadap anak, begal di mana-mana, kasus bullying, menunjukkan karakter kebangsaan yang lemah. Pembentukan karakter sedari dini akan menumbuhkan budaya karakter bangsa yang baik dan kunci utama dalam membangun bangsa..

Walaupun begitu dampak positif dari globalisasi juga banyak dirasakan dan itu bisa diajdikan sarana untuk pembentukan karakter juga. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, tidak hanya di sekolah tapi juga di keluarga dan masyarakat harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Dan pendidikan karakter menjadi solusi untuk menjawab permasalahan tersebut.

 

 


 

PEMBAHASAN

            Untuk lebih memahami peranan pendidikan karakter di era digital ini, akan dibahas satu per satu unsur-unsurnya secara terperinci mulai dari pendidikan, karakter, pendidikan karakter, dan era digital dengan dampak-dampaknya  itu bagaimana atau apa saja yang dimaksud dengan itu semua. Termasuk bagaimana penerapannya sehingga mudah untuk diaplikasikan oleh seluruh masyarakat umumnya.

 

Hakekat Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata Latin yaitu educare dan educere secara etimologis. Kata educare dalam bahasa Latin me- miliki arti melatih atau menjinakkan dan menyuburkan. Jadi, pendidikan merupakan sebuah proses membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata menjadi tertata. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masya- rakat dan kebudayaan. Maka dari itu, pendidikan perlu ditunjang dengan lingkungan pendidikan yang baik. Karena lingkungan pendidikan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dalam berinteraksi baik berupa benda mati, makhluk hidup, maupun hal-hal yang terjadi dan sebagai tempat dalam menyalurkan kemampuan-kemampuan untuk membentuk perkembangan setiap individu yang mempunyai pengaruh kuat kepada individu.

Ikhtiar untuk memperoleh nilai hidup merupakan tujuan hakiki dari pendidikan, bukan nilai angka sebagaimana lazimnya saat ini. Menghasilkan makna dari setiap pengetahuan yang dipelajarinya. Pemerolehan makna menjadi ukuran dari setiap proses pembelajaran. Tak ada proses belajar, bila belum menghasilkan rekonstruksi makna baru yang dapat memberikan pencerahan bagi si pembelajar.

Saat ini fenomena di dunia pendidikan kita lebih sering menggunakan tes yang mengukur ranah pengetahuan ketimbang untuk mengukur ranah afektif. Soal-soal pada saat ulangan atau ujian nasional pun lebih banyak menuntut kemampuan kognitif daripada mengukur ranah afektif, akibatnya produk pendidikannya, output atau outcome, kurang memiliki moralitas yang baik. Tidak malu melakukan korupsi, tidak takut berbuat dosa dan kesalahan, serta tidak resah bila berbuat kezaliman. Sehingga, pendidikan yang membentuk karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Dan karena itu tanah afektif terutama di sini adalah yang mengolah emosi sebagai harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan.

 

Hakekat Karakter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Poerwadarminta (Elmubarok, 2008:102), karakter diartikan sebagai tabiat, sifatsifat kejiwaan, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sifat nyata yang ditunjukkan berbeda antara individu satu dengan individu lainnya, dalam sejumlah atribut yang dapat diamati (Gulo, 1982:29). Berakar dari pengertian tersebut, karakter  kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan suatu pandangan bahwa karakter adalah “pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang”. Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Dalam sumber lain disebutkan bahwa: “Character is the sum of all the qualities that make you who you are. It’s your values, your thoughts, your word, your actions”..

Imam al-Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yakni sikap dan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga muncul secara spontan ketika berinteraksi dengan lingkungan. Keutamaan memiliki akhlak atau karakter mulia dinyatakan Rasulullah SAW dalam beberapa hadis berikut yang berisi tentang 4:

a. Mukmin yang baik keimanannya adalah mukmin yang memiliki akhlak yang paling baik (HR. Abu Daud);

b. Orang yang paling akhlaknya berada dekat dengan Rasulullah saw. pada hari kiamat (HR. At- Tirmidzi);

c. Budi pekerti yang baik adalah kebajikan (HR. Muslim);

d. Akhlak yang baik memiliki timbangan yang berat di akhirat (HR. At-Tirmidzi dan HR.Ahmad).

Karakter diartikan sebagai nilai-nilai yang unik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat kebaikan, dan nyata berkehidupan baik) yang terpatri dalam diri dan terejewantahkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

 

Faktor Pembentuk Karakter

Ada dua faktor yang mempengaruhi karakter manusia, yaitu faktor intern dan ekstern.

a. Faktor Intern

Terdapat banyak faktor intern yang memperngaruhi karakter, diantaranya adalah:

1) Insting dan Naluri: Insting adalah suatu sifat yang dapat menumbuhkan perbuatan secara spontan dalam merespon suatu hal, sehingga tercipta tindakan tanpa didahului dengan latihan. Naluri merupakan watak yang dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan asli. Naluri dapat berpengaruh baik jika diarahkan dalam perbuatan yang baik. begitu juga sebaliknya, jika diarahkan dalam hal-hal yang buruk, maka akan membawa pada suatu yang hina.

2) Adat atau Kebiasaan. Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi karakter sangat erat sekali dengan kebiasaan, yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan.

3) Kehendak atau Kemauan. Kemauan ialah kemauan untuk melangsungkan segala ide dan segala yang dimaksud, walau disertai dengan berbagai rintangan dan kesukaran-kesukaran,namun sekali-kali tidak mau tunduk kepada rintangan tersebut.

4) Suara batin atau suara hati. Hati adalah sebagai manajer yang akan menentukan apakah seluruh anggota badan diarahkan diperintahkan untuk menjadi baik dan buruk. Dengan demikian hati merupakan sentral menentukan prilaku manusia, termasuk karaternya.

5) Keturunan. Keturunan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perbuatan manusia. Dalam kehidupan kita sering kali berprilaku menyerupai orang tua bahkan nenek ataupun kakek yang sudah jauh.

Sifat yang diturunkan itu pada garis besarnya ada dua:

(a) Sifat jasmaniyah, yakni kekuatan dan kelemahan otot-otot dan urat sarap orang tua yang diwariskan kepada anaknya.

(b) Sifat ruhaniyah, yakni lemah dan kuatnya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi perilaku anak cucunya.

b. Faktor Ekstern

1) Pendidikan Formal

Pola pendidikan formal. Tumbuh kembang karakter anak amat dipengaruhi oleh sikap, cara, dan kepribadian guru yang mendidiknya. Dalam pembentukan karakter anak terjadi prosesimitasi dan identifikasi anak terhadap orang yang dilihatnya. Makadalam hal ini, guru harus memberikan contoh perilaku yang positif, perhatian, kasih sayang, dan pembiasaan-pembiasaan  sikap yang baik seperti; keterbukaan, pengendalian diri, dan kepercayaan terhadap orang. Bila proses pendidikan terhadap anak berjalan dengan baik, maka perkembangan karakter anak akan berkembang secara maksimal.

2) Lingkungan

Lingkungan (milie) adalah suatu yang mengelilingi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara, dan pergaulan. Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia yang lainnya atau juga dengan alam sekitar.Itulah sebabnya manusia harus bergaul dan dalam pergaulan itu saling mempengaruhi pikiran, sifat dan tingkah laku.

Adapun lingkungan dibagi kedalam dua bagian yaitu:

(a) Lingkungan yang bersifat kebendaan alam yang mengelilingi manusia merupakan faktor yang memengaruhi dan menetukan tingkah laku manusia.

(b) Lingkungan pergaulan yang bersifat keharmonian. Lingkungan yang baik akan mempengaruhi seseorang membentuk kepribadian menjadi baik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitupun sebaliknya, seseorang hidup di lingkungan kurang mendukung dalam pembentukan akhlaknya, maka setidaknya dia akan terpengaruh lingkungan tersebut

 


 

Pendidikan Karakter

Berbagai definisi pendidikan karakter diungkapkan oleh para ahli diantaranya:

Ø  Mulyasa mengemukakan, bahwa pendidikan karakter adalah  upaya  membantu perkembangan jiwa anak-anak, baik batin maupun lahir, dari sifat kodratnya menuju ke arah peradaban yang manusiawi dan lebih baik.

Ø  Williams & Schnaps mendefinisikan pendidikan karakter sebagai "Any deliberate approach by which school personnel, often in conjunction with parents and community members, help children and youth become caring, principled and responsible". Maknanya kurang lebih pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab.

Ø  Raharjo memaknai pendidikan karakter sebagai suatu proses pendidikan secara holistic yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.

Ø  Barnawi dan Arifin mendefinisikan pendidikan karakter sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan konstribusi yang positif kepada lingkungan.

Ø  Menurut Wahab Syakhirul Ali, dkk mengenai pendidikan karakter adalah usaha yang direncanakan dan diterapkan secara sistematis dalam membantu peserta didik untuk memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang diwujudkan dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma- norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat  istiadat.

Ø  Ratna Mergawangi mengemukakan nbahwa pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar mereka dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mererka dapat membrikan kontribusi yang posistif kepada lingkungannya.

 

Sehingga dari beberapa pengertian tersebut kita bisa menyimpulkan yang menjadi prinsip pendidikan karakter tersebut adalah:

·           Menonjolkan etika sebagai dasar dari sebuah karakter Mengenalkan karakter secara detail agar meliputi pola pikir, perasaan, dan sikap baik.

·           Memakai metode yang  tegas, aktif dan efektif untuk membentuk karakter. Membuat kondisi yang mempunyai rasa peduli sosial Anak diberi kesempatan untuk menunjukkan sikap yang sopan

·           Menumbuhkan motivasi diri pada anak Seluruh staf sekolah, keluarag, dan masyarakat difungsikan sebagai pembimbing moral yang bertanggung jawab agar pendidikan karakter terlaksana. Terdapat pengelompokan yang bertugas pada point moral dan support yang kuat dalam berinisiatif menumbuhkan pendidikan karakter Membangun karakter misalnya sebagai mitra.

·           Melakukan evaluasi karakter pada semua pihak yang terkait sekolah, rumah, dan lingkungan sebagai pembina karakter dan penunjang karakter

 

Salah satu program pemerintah yang pelaksanaannya diterapkan melalui lembaga pendidikan yang dimulai dari level terendah (PAUD) sampai ke tingkat perguruan tinggi adalah pendidikan karakter, hal ini agar memudahkan pemerintah dalam membangun karakter bangsa yang diinginkan sesuai harapan bangsa, sehingga melalui peserta didik karakter yang baik akan tumbuh karena terbiasa dilaksanakan dan dilakukan baik dalam lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat (Fadhilah dkk.. 2021) Pendidikan karakter perlu dimulai dengan penanaman pengetahuan dan kesadaran kepada anak akan bagaimana bertindak sesuai nilai-nilai moralitas dalam agama Islam kaitannya adalah adab, sebab jika anak tidak tahu bagaimana bertindak, perkembangan moral mereka akan terganggu. Lagi pula telah kita ketahui bahwa karakter dapat dilihat dari ”tindakan” bukan hanya dari pemikiran. Dengan meningkatkan kecerdasan moral anak, diharapkan mereka tidak hanya berpikir dengan benar, tetapi juga bertindak benar dan diharapkan juga akan terbangunnya karakter yang kuat. Cara terbaik mengembangkan kemampuan karakter atau moral anak merupakan langkah paling tepat melindungi kehidupan moralnya sekarang dan selamanya.

Ada beberapa batasan atau deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter menurut Fathurrohman (2013) antara lain:

1. Nilai karakter yang berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya, nilai antara hubungan manusia dengan penciptanya;

2. Nilai karakter yang ada hubungannya pada diri sendiri, seperti sikap jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, mandiri dan cinta ilmu.

3. Nilai karakter antar sesama, meliputi:

a) Menyadari akan hak dan tanggung jawab pada diri dan orang lain yaitu sikap mengetahui dan memahami serta melaksanakan apa yang dimiliki diri sendiri dan orang lain serta apa yang wajib bagi diri sendiri serta orang lain;

b) Mematuhi aturan-aturan sosial;

c) Sikap patuh dan menaati peraturan yang berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum; d) Menghargai hasil karya dan prestasi orang lain yaitu sikap dan tindakan yang mensupport dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain;

e) Sopan yaitu sifat yang santun dan baik dari sudut pandang tutur kata maupun perilakunya padasemua orang;

f) Nilai demokratis yaitu cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai setara antara hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

4. Nilai karakter yang berkaitan dengan lingkungan, seperti sikap dan tindakan yang selalu berusaha dalam mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan usaha untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu memiliki rasa ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang memerlukan;

5. Nilai kebangsaan, meliputi cara berpikir, bertindak dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.(Agus Zaenul Fitri, 2012).

 

Dari berbagai nilai tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ruang lingkup dari pendidikan karakter mencakup banyak hal diantaranya :

a) ketakwaan.

b) sehat jasmani dan rohani.

c) berjiwa lapang

d) pantang menyerah.

e) berjiwa patriot dan nasionalis.

Menurut Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, yang telah berhasil mengidentifikasi, terdapat 18 nilai-nilai Pendidikan Karakter. Nilai-nilai yang dirumuskan tersebut dapat menjadi pedoman bagi lembaga pendidikan formal, maupun informal untuk mengembangkan karakter peserta didiknya. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, Pancasila, budaya bangsa Indonesia, dan tujuan pendidikan nasional,yaitu:

a. Religius, yaitu sikap dan perilaku yang taat dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, bersikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

b. Jujur, yaitu perilaku seseorang dalam menjalankan kehidupannya dengan sebenar-benarnya. Upayanya tersebut dapat diketahui melalui perbuatan an perkataan yang dapat dipercaya.

c. Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang tidak sama dengan dirinya.

d. Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan taat pada berbagai ketentuan dan peraturan.

e. Kerja keras, yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dan dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta adanya keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.Karakter kerja keras dapat terbentuk dengan adanya pembiasaan-pembiasaan.

f. Kreatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

g. Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang mengupayakan untuk tidak mudah bergantung dengan orang lain, serta bertanggungjawab atas tugasnya dan dirinya sendiri.

h. Demokratis,yaitu cara seseorang dalam memperlakukan dirinya sama hak dan kewajiban dengan orang lain.

i. Rasa ingin tahu, yaitu sikap atau perilaku yang menggambarkan adanya upaya dan keinginan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai sesuatu yang sedang dipelajari, dilihat, atau didengar.

j. Semangat kebangsaan, yaitu sikap, tindakan, maupun pola piker yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau kelompok.

k. Cinta tanah air, yaitu sikap, tindakan, atau pola pikir yang menggambarkan adanya kecintaan, kebanggaan, dan kepedulian akan keberagaman bangsa dan negara Indonesia.

l. Menghargai prestasi, yaitu sikap, tindakan, dan keinginan untuk menghargai dan menghormati karya sendiri dan orang lain, serta menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

m. Bersahabat/komunikatif, yaitu sikap yang menunjukkan kesenangan dalam bergaul, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan orang lain.

n. Cinta damai, yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menentramkan dan membuat nyaman orang lain atas kehadirannya.

o. Gemar membaca, yaitu sikap dan tindakan seseorang yang menunjukkan kesenangan membaca yang memberikan kebermanfaatan bagi dirinya dan orang lain.

p. Peduli lingkungan, yaitu sikap dan tindakan yang menunjukkan kecintaan pada alam sekitar dengan senantiasa menjaga dan mengupayakan untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

q. Peduli sosial, yaitu sikap dan tindakan yang memperlihatkan keinginan untuk selalu  memberikan bantuan pada orang lain yang membutuhkan dan senang berinteraksi dengan orang lain.

r. Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan adanya upaya untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, baik terhadap alam sekitar, lingkungan sosial, budaya, maupun terhadap hubungannya dengan Tuhan

Landasan pendidikan karakter disebut di dalam Alqur’an Q.S 31:17 “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah”.. Al-qur’an menjelaskan dengan tegas agar manusia menyerukan dan menegakkan kebenaran dan menjauhkan perbuatan yang munkar. Pendidikan karakter yang diberikan seorang ayah kepada anaknya untuk selalu mengerjakan sholat, beramar m'ruf nahyi munkar, dan selalu bersabar.

Sedangkan Konsep dasar pendidikan karakter tertuang dalam Permendikbud No.23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti tahun 2015. Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) bertujuan:

1. menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan,

2. menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah dan masyarakat,

3. menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan keluarga, dan/ atau

4. menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat Penanaman dan pengembangan pendidikan karakter di sekolah menjadi tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Lingkungan masyarakat dengan kebijakan pemerintah yang mendukung juga akan menjadi media yang kondusif untuk pengembangan karakter anak, dan lingkungan sekolah saat ini juga memiliki peran sangat besar pembentukan karakter anak. Peran guru tidak hanya sekedar sebagai pendidik semata, tetapi juga sebagai pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya. Ketiga pilar ini yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar ataupun pemerintah setempat merupakan ujung tombak pelaskana pendidikan karakter, yang harus memahami dan saling bekerjasama bahu membahu membenahi kondisi generasi penerus bangsa yang saaat ini sangat memerlukan pendidikan karakter.

Dengan  demikian,  pendidikan  karakter  bukan  sekedar  mengajarkan mana  yang  benar  dan  mana  yang  salah,  lebih  dari  itu,  pendidikan  karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik shingga anak menjadi faham (kognitif) tentang yang benar dan yang salah, mampu merasakan (efektif) nilai yang baik dan biasa mampu melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral  feeling),  dan  perilaku  yang  baik  (moral  action).  Pendidikan  karakter  menekankan  pada  habit  atau  kebiasaan  yang  terus  menerus  dipraktikan  dan dilakukan.

 


 

Era Digital

Revolusi Digital adalah perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang telah terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini. Revolusi itu pada awalnya mungkin dipicu oleh sebuah generasi remaja yang lahir pada tahun 80-an. Analog dengan revolusi pertanian, revolusi Industri, revolusi digital menandai awal era Informasi (wikipedia)

Revolusi digital ini telah mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan yang sangat canggih saat ini. Sebuah teknologi yang membuat perubahan besar kepada seluruh dunia, dari mulai membantu mempermudah segala urusan sampai membuat masalah karena tidak bisa menggunakan fasilitas digital yang semakin canggih ini dengan baik dan benar.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa era digital adalah suatu kondisi zaman ataupun kehidupan yang mana seluruh kegiatan yang mendukung kehidupan sudah bisa dipermudah dengan adanya teknologi yang serba canggih. Selain itu, era digital juga hadir demi menggantikan beberapa teknologi masa lalu agar bisa lebih modern dan juga lebih praktis.

Penemuan personal komputer yaitu sistem yang dirancang dan diorganisasir secara otomatis untuk menerima dan menyimpan data input, memprosesnya, dan menghasilkan output dibawah kendali instruksi elektronik yang tersimpan di memori yang dapat memanipulasi data dengan cepat dan tepat membuat perkembangan teknologi  menjadi masif Perkembangan teknologi komputer digital khususnya mikroprosesor dengan kinerjanya terus meningkat, dan teknologi ini memungkinkan ditanam pada berbagai perangkat yang dimiliki secara personal. Perkembangan teknologi transmisi termasuk jaringan komputer juga telah memicu para pengguna internet dan penyiaran digital. Ditambah perkembangan ponsel, yang tumbuh pesat menjadi penetrasi sosial memainkan peran besar dalam revolusi digital dengan memberikan hiburan di mana-mana, komunikasi, dan konektivitas online. Lahirnya situs jejaring sosial yang merupakan sebuah pelayanan berbasis web, memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Hubungan antara perangkat mobile dan halaman web internet melalui "jaringan sosial" telah menjadi standar dalam komunikasi digital. Situs pertemanan bernama Friendster terus berkembang ke situs-situs seperti MySpace, Facebook, Twitter dan lain-lain.

Revolusi digital merupakan kemampuan untuk dengan mudah memindahkan informasi digital antara media, dan untuk mengakses atau mendistribusikannya jarak jauh. Paperless merupakan salah satu trend era digital dimana penggunaan kertas menjadi lebih sedikit. Kita tidak harus mencetak foto maupun dokumen yang dibutuhkan pada kertas, melainkan dalam bentuk digital. Penyimpanan secara digital lebih aman daripada menyimpan bermacam dokumen dalam bentuk kertas. Digitalisasi dokumen berbentuk kertas menjadi file elektronik menjadi lebih mudah dalam berbagi salah satunya e-book.

Dengan e-book kita tidak lagi harus menyimpan buku-buku yang tebal secara fisik dan membutuhkan tempat yang luas. Dengan file digital juga dokumen menjadi jelas lebih ringkas yang setiap saat dapat dibuka melalui komputer dan ponsel. Pengembangan berbagai aplikasi merebak seiring diproduksinya ponsel pintar dengan operating system (OS) yang semakin mendekatkan diri pada kehidupan manusia yang ditujukan demi kemudahan dan kenyamanan penggunanya. Perkembangan OS juga merambah kepada peralatan digital lain seperti televisi pintar, mesin cuci pintar, kaca mata pintar, mesin pembuat kopi pintar, pengatur denyut jantung pintar, dan lain sebagainya Kemudahan dalam mendapatkan dan berbagi Informasi dipicu oleh kehadiran internet yang telah mengubah segalanya. Mesin pencari (search engine) seperti macam google dan ensiklopedia online seperti wikipedia memudahkan seseorang mencari informasi apapun dalam waktu singkat.

Selain itu perkembangan media sosial telah mengubah gaya hidup manusia saat ini. Pengguna media sosial senantiasa update dan berbagi informasi setiap saatnya dengan frekuensi tinggi. Media sosial dijadikan media alternatif untuk melihat perkembangan apa yang sedang hangat diperbincangkan, dan menjadi wahana interaksi pengguna satu dengan yang lain dalam menanggapi sebuah isu terkini. Dibalik kepopulerannya, era teknologi digital menyimpan berbagai potensi dan dampak negatif yang bisa merugikan manusia. Kemudahan segala pekerjaan dengan berbagai aplikasi dan teknologi, justru menjadikan seseorang semakin lebih sedikit bergerak, aktivitas fisik makin berkurang, muncul kemalasan dan dapat muncul berbagai penyakit seperti obesitas dan lain sebagainya.

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menjadi bumerang yang memberi dampak negatif bagi penggunanya. Teknologi dapat bersifat adiktif (kecanduan) dan sulit untuk berubah apabila tidak dilakukan treatment khusus dan serius. Muncul nomophobia yang merupakan ketakutan bila peralatan digital seperti ponsel ketinggalan, selalu memeriksa ponsel setiap beberapa menit, kebergantungan pada charger, bahkan merasa ketakutan dan stress bila baterai lemah atau mungkin sinyalnya tidak maksimal. Bahaya pancaran sinar ponsel, dan penggunaan posel berlebihan di malam hari akan mengganggu jam tidur hingga mengurangi waktu istirahat yang pada akhirnya menjadi gangguan kesehatan.

Teknologi digital ternyata mampu mendorong berbagai kemajuan Indonesia sebagai negara berkembang,. Dari segi infrastruktur dan hukum yang mengatur kegiatan di dalam internet, Indonesia sudah siap hidup di era digital. Kesiapan Indonesia dalam koneksi internet yang saat ini sudah semakin membaik di era 4G dengan Informasi dan Transaksi Eelektronik (ITE). Masyarakat Indonesia secara umum antusias mengadopsi hidup mendigital terutama dipicu oleh penetrasi internet dan penggunaan ponsel pintar yang terus meningkat setiap tahun.

Dunia digital berbasis internet membuat seluruh aktivitas para penghuninya menjadi tanpa batas ruang dan waktu. Payung hukum untuk mengatur segala bentuk aktivitas tersebut seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tahun 2008 terus disempurnakan. Data pribadi masyarakat perlu diberikan perlindungan di dalam dunia maya, maka pihak seperti Google atau Facebook yang memiliki data pribadi penggunanya tidak bisa menggunakan big data tersebut sembarangan. Telah banyak perkembangan era digital yang dilakukan Indonesia termasuk media massa di Indonesia berubah dalam menyampaikan informasi.

Media online (internet) di era sekarang ini menggeserkan media massa konvensional. Walaupun hampir satu dasawarsa Indonesia terlambat dalam mengadopsi teknologi komunikasi khususnya internet. Namun budaya digital masyarakat Indonesia sangat cepat menerima perkembangan teknologi tersebut. Di lihat secara global Indonesia masuk dalam budaya digital yang di butuhkan dalam mencapai pertumbuhan yang positif sesuai dengan kemajuan jaman itu sendiri.

 


 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan pendididkan karakter

Dari latar belakang sebelumnya dikemukakan bahwa penggunaan internet dan teknologi, sehingga hal tersebut harus kita kaji dan dijadikan pemikiran agar pemanfaatannya bisa sesuai harapan kita. Hal tersbut bisa diamati dari dampak penggunaan internet dan tenologi itu sendiri. Dampak internet terhadap anak ditinjau dari dua dimensi yaitu dimensi dampak positif dan dimensi dampak negatif. Masingmasing dimensi tersebut dibagi menjadi beberapa indikator yang dijelaskan sebagai berikut :

Dampak Positif

1. Internet bermanfaat sebagai Media Informasi Anak mendapatkan manfaat internet sebagai media informasi yang beragam misalnya berita, pengtahuan dan wawasan, bahkan keterampilan (life skill) dengan beredarnya video-video tutorial bebrgai hal yang disajikan dnegan menarik sehingga senang untuk ditonton dan diikuti terus chanelnya.

2. Internet bermanfaat sebagai Media Komunikasi Anak mendapatkan manfaat internet sebagai media komunikasi sangat terasa saat pandemi covid 19 sedang marak-maraknya, dimana anak dilarang untuk keluar rumah menghindari wabah. Adanya internet dan teknologi ini sangat membantu, karena bisa dijadikan alat komunikasi yang cukup efeketif untuk menjembatani keperluan yang urgen.

3. Internet bermanfaat sebagai Media Belajar Anak mendapatkan manfaat internet sebagai media belajar terutama di masa BdR (Belajat di Rumah) atau daring, walau tidak bertatap muka langsung di sekolah, tapi masih bisa bertatap muka online, bertemu guru dan teman-teman, bisa bertanya jawab bilamana ada yang kesulitan.

4. Internet bermanfaat sebagai Media Hiburan Anak mendapatkan manfaat internet sebagai media hiburan dengan tontonan yang menarik dan menyenangkan, di saat merasa jenuh hanya di rumah saja adnya tontonan tersebut setidaknya bisa mengatasi hal tersebut. Dari dampak positif yang ada, kita bisa manfaatkan media ini dengan mengubah fungsi dan kontennya agar disesuaikan dengan kebutuhan sesuai tahap perkembamgan anak.

 

Dampak Negatif

1. Internet menyebabkan sifat sosial pada anak berkurang. Anak mendapatkan dampak negatif internet yaitu kurang sifat sosialnya (empati), karena banyak permasalahan yang terjadi di masyarakat yang dijadikan bahan candaan, hanya sekedar tontonan belaka, sehingga mempengaruhi cara pandang mereka.

2. Internet menyebabkan pola interaksi siswa berubah Anak mendapatkan dampak negatif internet yaitu bahwa intensitas pemanfaatan internet memberikan dampak yang lumayan besar pada penurunan pola interaksi siswa. Intensitas yang tinggi pada pemanfaatan internet membuat seseorang hanya berinteraksi secara maya melalui internet. Intensitas yang tinggi dalam berinternet menyebabkan seseorang tidak lagi membutuhkan intensitas yang tinggi dengan orang-orang di lingkungannya di dunia nyata.

3. Internet menyebabkan anak mengetahui tindakan kejahatan Anak mendapatkan dampak negatif internet yaitu bahwa intensitas pemanfaatan internet memberikan dampak relatif sangat kecil terhadap kecenderungan anak mengenali dunia kriminalitas. Sebagai pelajar, seseorang akan cenderung lebih mengutamakan kebutuhannya dalam belajar dibandingkan dengan kegiatan lain.

            Dari dampak negatif ini, kita bisa merancang strategi yang tepat untuk mengatasi hal-hal tersebut dengan bijak dan sesuai kebutuhan anak. Maragustam menyampaikan bahwa ada tujuh strategi pembentukan karakter yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Pendekatan pendidikan moral tersebut adalah: pembiasaan dan pembudayaan, memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang baik, memberikan pengetahuan akan rasa mencintai kebaikan, bertindak terpuji, bercermin pada hal-hal yang baik dari lingkungan sekitar, dan bertaubat (Maragustam, 2014).

Adapun penjelasannya akan dijabarkan dalam poin-poin di bawah ini:

1. Strategi pertama adalah strategi yang mengajarkan pengetahuan tentang budi pekerti atau Moral Knowing. Strategi ini adalah aspek pertama yang memiliki enam fondasi yaitu kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, kebenaran mengambil menentukan sikap, dan pengenalan diri (Sudrajat, 2011). Dengan memberikan pengetahuan kepada anak tentang karakter yang positif, maka anak akan menyadari tentang pengetahuan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam aktifitas keseharian mereka atau fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Untuk penerapannya, pendekatan klarifikasi nilai (value clarrification approach) adalah pendekatan yang sesuai untuk mengajarkannya (Cahyono, 2016). Implementasi strategi ini bisa diterapkan dengan diskusi atau analisa film. Hal yang paling ditekankan dalam strategi moral knowing ini, bagaimana pendidik maupun orang tua dapat membuat anak memahami akan karakter yang baik dan yang manakah perangai yang buruk. Selain itu, anak juga bisa merasakan perbedaan dari nilai yang ditanamkan, apakah memberikan dampak yang baik ataukah negatif. Hal ini bermaksud agar anak bisa lebih arif dan bijaksana dalam mengklarifikasi nilai-nilai yang akan menjadi kebiasaan dalam kesehariannya sehingga mereka tidak akan goyah dari pengaruh buruk di lingkungan masyarakat. (Cahyono,2016)

Memiliki pengetahuan nilai moral itu tidak cukup untuk menjadi manusia berkarakter, nilai moral harus disertai dengan adanya karakter yang bermoral" dikemukakan oleh Thomas Likcona (1991: 53). “Termasuk dalam karakter ini adalah tiga komponen karakter (components of good character) yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan perbuatan bermoral (moral actions)” (Zuriah, 2007: 45). Hal ini diperlukan agar manusia mampu memahami, merasakan, dan sekaligus mengerjakan nilai-nilai kabajikan.

Enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu :

1) kesadaran moral (moral awareness),

2) mengetahui nilai moral (knowing moral values),

3) perspective talking,

4) penalaran moral (moral reasoning),

5) membuat keputusan (decision making),

6) pengetahuan diri (self knowledge).

Unsur moral knowing mengisi ranah kognitif mereka. Dengan pengetahuan itu akan mengubah pola pikir mereka tentang moral yang baik dan benar. Hal tersebut akan membantu memudahkan pembentukan karakter yang diharapkan, karena mereka sudah paham mengapa harus melakukan itu.

Enam hal berikut merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter (Moral feeling), yaitu:

1) nurani (conscience),

2) penghargaan diri (self esteem),

3) empati (empathy),

4) cinta kebaikan(loving the good),

5) kontrol diri (self control), dan kerendahan hati (humality).

Perbuatan atau tindakan moral action merupakan out come dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang untuk berbuat (act morally) maka harus dilihat dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).

2. Strategi kedua adalah strategi Moral Modelling. Secara umum dalam dunia pendidikan, metode ini dipandang sebagai strategi yang paling efektif dalam menumbuhkan karakter positif. Pendidik maupun orang tua memberikan contoh ucapan atau perbuatan yang baik untuk ditirukan oleh peserta dan ramah akan menjadi idola dan suri tauladan yang baik bagi anak. Maka anak diibaratkan seperti tanah liat yang dapat dibentuk, dan orang-orang disekitarnyalah yang akan mengambil peran penting dalam pertumbuhan karakter positif mereka.

3. Strategi ketiga adalah menumbuhkan rasa mencintai kebaikan. Moral loving berakar dari pola pikir. Bagi yang berpikir positif terhadap unsur-unsur kebaikan maka dia akan merasakan arti dari perilaku positif tersebut. Jika seseorang telah merasakan dampak yang bermanfaat dari tabiat baiknya maka rasa itu akan menumbuhkan cinta pada perbuatan-perbuatan yang baik. Perasaan cinta dan sayang pada kebaikan akan memberikan kekuatan yang bisa memotivasi seseorang untuk mau berbuat kebaikan. Dalam implementasinya, strategi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan action approach yang memberikan kesempatan bagi anak untuk bertindak dan menerapkan tindakantindakan yang mereka anggap terpuji. Dengan memberikan pengetahuan akan rasa mencintai kebaikan maka peserta didik akan menjadi manusia yang berkarakter dan memperkuat emosi anak akan kepribadian yang baik. Penguatan ini berhubungan dengan wujud sikap yang harus dirasakan oleh anak, yaitu kesadaran akan jati diri yaitu percaya diri, empati terhadap derita orang lain, menyukai kebaikan, pengendalian diri, dan kerendahan hati.(Sudrajat, 2011)

4. Strategi keempat adalah Moral Acting. Dalam penerapannya, Moral Acting akan secara tidak langsung akan tumbuh setelah anak memiliki pengetahuan akan karakter terpuji, bercermin pada teladan mereka, dan mampu membedakan nilai positif dan sebaliknya sebagaimana pengetahuan dan pengalamannya terhadap yang akhirnya membentuk perilakunya. Sikap positif yang tertanam dan dilandasi oleh ilmu pengetahuan, pemahaman, kemandirian, perasaan, dan rasa cinta maka akan memberikan keahlian yang berharga dalam dirinya. Endapan pengetahuan tersebut akan tertanam dalam alam bawah sadar mereka sehingga terbentuklah karakter positif yang diharapkan. Berbuat kebaikan akan dengan mudah terlihat dari anak setelah mereka mengetahui pengetahuan tentang budi pekerti dan tumbuhnya rasa cinta mereka akan kebaikan. Moral acting menunjukkan kesempurnaan atas kompetensi anak setelah melalui proses pengkajian. Kemampuan yang dimiliki peserta didik ini bukan hanya berguna bagi dirinya sendiri namun juga mampu memberikan kebermanfaatan kepada orang lain di sekitarnya (Sudrajat, 2011)

5. Selanjutnya pada strategi kelima yaitu strategi tradisional, anak diberitahukan secara langsung akan nilai- nilai mana yang baik dan mana yang buruk. Strategi ini juga disebut dengan strategi nasihat. Dalam strategi ini, guru maupun orang tua memberikan bimbingan dan pengarahan kepada anak untuk menuju kepribadian positif yang dapat diterima masyarakat pada umumnya. Dengan pengarahan yang menyentuh hati anak, maka makna kebaikan akan dengan mudah terserap dan dijadikan sebagai fondasi perilaku dalam kehidupan mereka. Contoh penerapannya, seorang guru meminta peserta didiknya untuk merefleksikan diri mereka tentang tujuan mereka datang ke sekolah dan kewajibankewajiban yang harus dilaksanakan sebagai peserta didik, anak dan kepada Tuhannya. (Cahyono, 2016)

6. Adapun pada strategi keenam yaitu strategi punishment, strategi ini bertujuan untuk menegaskan peraturan, dan menyadarkan seseorang yang berada pada jalan yang salah. Ajaran atau peraturan haruslah dipatuhi atau jika dilanggar maka akan ada hukuman sebagai tindakan dari penegakan disiplin. Jadi menghukum anak bukanlah tindakan yang tidak mengasihi anak, tetapi mengingatkan akan kebaikan yang terkandung dalam peraturan yang dijalankan.(Cahyono, 2016)

7. Pada strategi yang ketujuh ini, yaitu strategi pembiasaan, akan menggunakan pendekatan action yang cukup ampuh ditunjukkan (dicontohkan bagaimana seharusnya bersikap atau memberikan teladan) oleh guru maupun orang tua dalam menumbuhkan karakter positif pada anak. Dengan pembiasaan, peserta didik akan dipandu agar dapat memahami tindakan yang mereka lakukan. Seperti membiasakan sikap disiplin, berdoa sebelum memulai aktifitas, berpakaian rapi, membuang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya. Kebiasaan baru dapat menjadi kepribadian yang baik bagi seseorang jika dia merasakan senang dan mengulang-ulangnya. Kebiasaan positif akan menuntun pada berpikir positif. Jadi ketujuh strategi diatas harus dilatih secara konsisten agar menjadi kebiasaan yang tertanam. Rancangan yang ditanamkan adalah habit of the mind, habit of the heart, and habit  of  the  hands. (Cahyono, 2016) .

Dengan strategi dan kebijakan yang dilakukan, maka akan terbentuklah kedewasaan pada diri anak sebagaimana karakter positif yang disampaikan Thomas Lickona. Dia menyebutkan bahwa ada tiga unsur dari karakter positif yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan perbuatan yang terpuji (moral action). Hal ini berguna bagi manusia untuk mengetahui dan membedakan tindakan yang baik dan yang buruk. mengumpulkan guru, orangtua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat mendengar bahwa prilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kehidupannya memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk menjadi model prilaku sosial dan moral (US Department of Education)

 

Penerapan Pendidikan Karakter

Upaya untuk menerapkan pendidikan karakter harus dilakukan oleh 3 pilar utama yaitu keluaraga dalam hal ini adalah orang tua, sekolah, dan masyarakat atau pemerintah.

A. Penerapan di keluarga yang dapat dilakukan orang tua diantaranya:

1. Meningkatkan dan memperbarui wawasan tentang internet dan gadget. Orang tua tidak bisa mengawasi anak-anak apabila orang tua gagap teknologi.

2. Jika di rumah ada internet, posisikan di ruang keluarga dan siapa yang dapat melihat apa yang dilakukan anak dalam mengakses internet.

3. Membatasi waktu pada anak dalam menggunakan gadget dan internet.

4. Meminjamkan Anak Perangkat Digital Sesuai Keperluan

5. Memberikan pemahaman dan kesadaran bersama akan dampak negatif dari internet atau gadget.

6. Memilihkan Program/ Aplikasi Positif

7. Secara tegas melarang sesegera mungkin jika ada yang tidak pantas ditonton

8. Mendampingi dan meningkatkan Interaksi dengan anak  saat menggunakan internet.

9. Menjalin komunikasi yang terbuka dua arah dengan anak-anak.

 

B. Penerapan di seakolah dapat melalui Pendekatan Holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Berikut ini ciri-ciri pendekatan holistik (Elkind dan Sweet, 2005) :

1. Segala sesuatu di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara siswa, guru, dan masyarakat.  Adanya komunikasi terbuka diantara guru dan masyarakat dalam mendidik siswa bersama dalam koridornya msing-masing.

2. Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan yang jelas yang menghubungkan siswa, guru, dan sekolah

3. Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik.

4. Kerjasama dan kolaborasi di antara siswa menjadi hal yang lebih utama dibandingkan persaingan rangking.

5. Nilai-nilai seperti keadilan, rasa hormat, dan kejujuran menjadi bagian pembelajaran sehari-hari baik di dalam mau-pun di luar kelas

6. Siswa-siswa diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku moralnya melalui kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran memberikan pelayanan

7. Disiplin dan pengelolaan kelas menjadi fokus dalam memecahkan masalah  dibandingkan hadiah dan hukuman

8.   Model pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan beralih ke kelas demokrasi di mana guru dan siswa berkumpul untuk membangun kesatuan, norma, dan memecahkan masalah.

 


 

C. Penerapan di masyarakat lebih pada kebijakan pemerintah dan hubungannya dengan kebudayaan daerah tempat tinggal anak, yang akan sangat berpengaruh pada pembenttukan karakter mereka. Model implementasinya bisa berupa:

1) Pembentukan karakter melalui shoalat

Shalat dapat membentuk karakter disiplin pada seseorang karena dengan melaksanakan shalat seseorang akan terbiasa untuk melaksanakannya dan akan menjadi disiplin serta teratur dalam mengerjakannya. Hal ini tentu sangat berimbas positif pada pembentukan karakter disiplin. Dalam shalat juga tercermin gerakan – gerakan dan bacaan – bacaan pada setiap rakaat dan gerakannya.

Hal ini terbukti dengan diadakannya penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti. Salah satunya ialah pembentukan karakter disiplin peserta didik dalam beribadah melalui pembiasaan shalat dhuha. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa shalat dhuha yang dilakukan secara teratur oleh peserta didik di sekolah MTs Khairiyah Pipitan menjadikan mereka disiplin dalam mengerjakan shalat dhuha secara berjamah. Selain itu juga mereka terbiasa melaksanakan ibadah shalat dhuha tersebut dengan baik dan tanpa paksaan. Mereka terbiasa melaksanakan shalat dhuha pada waktunya. (Of et al., 2015).

Dari hasil penelitian tersebut maka dapat dianalisis dan dikaji bahwa dengan melaksanakan shalat baik sunah maupun shalat wajib, maka dapat menumbuhkan dan membentuk karakter disiplin pada peserta didik. Dengan kata lain, dengan pembiasaan melaksanakan ibadah shalat, maka secara teratur pembentukan karakter disiplin dapat terealisasi karena seseorang akan melaksanakan shalat atas inisiatifnya di waktu – waktu yang sesuai dengan jadwal shalat.

 

2) Pembentukan karakter melalui permainan tradisional

Permainan tradisional dapat melatih dan juga membentuk karakter seorang anak. Karakter yang bisa dibentuk dari implementasi permainan tradisional ini ialah rasa tanggung jawab, disiplin dan mengenal dan mencintai budaya lokal yang terkandung dalam permainan tersebut. Dengan adanya hal tersebut, maka seorang anak dapat belajar dan memiliki karakter yang positif terhadap sekitar. (Rakhman, Wibawa and Studies, 2019). Selain itu, permainan tradisional juga dapat meningkatkan kemampuan anak belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Permainan tradisional mampu memberikan kolaborasi nilai dan karakter yang bisa dipelajari dan diimplimentasikan serta diintegrasikan dalam proses pembentukan karakter pada anak sejak dari usia dini.

3) Pembentukan Karakter Melalui Dongeng

Mendongeng merupakan aktiviitas bercerita yang juga merupakan praktik budaya alamiah yang baik sekali diberikan kepada anak sejak usia dini. (Fitroh, 2015). Mendongeng dapat dijadikan sebagai bentuk proses pembelajaran dan penanaman nilai- nilai moral serta karakter pada anak sejak usia dini. Dongeng umumnya memang cerita fiktif namun memuat nilai serta amanat dan pesan moral yang terkandung didalamnya. Dengan adanya pembiasaan membacakan dongeng sambal mengajarkan dan menanamkan nilai – nilai positif pada anak sejak dini, maka saat itulah Pendidikan dan penanaman karakter sedang berlangsung. Pendidikan karakter dapat di implementasikan melalui kegiatan berdongeng atau membacakan dongeng kepada anak – anak sejak dini. Penanaman karakter bertujuan untuk membentuk dan menanamkan karakter- karakter positif pada anak sejak dini, sehingga ketika mereka dewasa, mereka sudah memiliki sikap, tindakan dan karakter yang baik dan peduli pada sekitar.

Berikut adalah manfaat dongeng yang dapat digunakan untuk penanaman dan pembentukan karakter yakni :

1. Mengajarkan budi pekerti kepada anak : banyak sekali dongeng – dongeng yang memuat pesan moral serta nilai yang dapat diceritakan kepada anak dan kita mampu mengarahkan dan membimbing mereka untuk bisa mempelajari dan meneladani sikap yang berbudi dan pekerti yang baik. Orang tua dapat menceritakan kisah – kisah dongeng yang memuat pesan – pesan moral yang positif.

2. Membiasakan budaya membaca: Selain membentuk sikap dan karakter, dongeng juga mampu meningkatkan minat dan semangat membaca pada anak, sehingga hal ini akan berdampak positif bagi kemampuan kognitifnya.

3. Mengembangkan imajinasi : Mendongengkan anak dan membacakannya dongeng mampu mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas anak. Sehingga mampu memberikan mereka ruang untuk bisa berimajinasi namun tetap tidak meninggalkan essensi nilai karakter mereka. (Habsari, 2017).

 

Perlunya kerjasama antara pihak yang terkait dalam penerapan pendidikan karakter

Pihak terkait yang berperan penting dalam penerapan pendidikan karakter ini adalah yang tersebut dalam 3 pilar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Masing-masing pihak harus menyadari terlebih dahulu peranannya sehingga nanti selaras dalam pelaksanaannya. Peranan 3 pilar ini akan menjadi kunci atau faktor penting yang menentukan dalam peranan pendidikan karakter di era digital ini.


 

A. Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter

Keluarga merupakan cikal bakal terbentuk prilaku anak-anak baik prilaku baik maupun prilaku buruk karena keluarga merupakan lingkungan masyarakat kecil pertama yang menjadi media untuk belajar berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar. Setiap anak akan merekam apa yang mereka lihat dan mereka dengar dan setelah itu akan selalu diingat yang pada proses selanjutnya akan termanifestasi dalam bentuk ucapan atau tindakan baik secara sadar maupun secara tidak sadar dan jika hal itu terjadi berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang bisa membentuk karakter anak.

Oleh karena itu orang tua terutama ibu yang sejak dalam rahim anak bersama ibu perlu membiasakan diri memberi contoh yang baik sabagai stimulus awal bagi perkembangan anak. Menurut teori tabularasa yang dipopulerkan oleh John Lock bahwa setiap anak yang lahir seperti kertas putih yang belum tertuliskan apa-apa sehingga perkembangan anak sangat tergantung lingkungan yang mengisinya.

Orang tua dapat terlibat dalam kegiatan pembudayaan dan penanaman karakter melalui beberapa kegiatan. Orang tua secara aktif dapat memantau perkembangan perilaku anak mereka melalui buku kegiatan siswa yang sudah disiapkan pihak sekolah. Orang tua secara aktif mengikuti kegiatan rutin atau bergilir yang dilaksanakan pihak sekolah dalam pertemuan-pertemuan antara orang tua dengan wali kelas dan guru-guru kelas.

Era Digital saat ini anak-anak usia sekolah dasar tidak bisa lepas dari gadget bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Kondisi seperti itu, orang tua perlu memperkenalkan kepada anak-anak, situs pendidikan bila menggunakan gadget, seperti lagu-lagu islami dan pendidikan, games pendidikan yang mengasah kemampuan kognitif, video tata cara sholat, membersihkan kamar sendiri, dan lainnya, yang penting untuk diingat. Orang tua juga berperan mengawasi dan membatasi anak-anak dalam menggunakan ponsel, atur waktu kapan ia harus mengerjakan tugas sekolahnya, bersosialisasi dengan teman, bersosialisasi tengan keluarga, dan menggunakan ponsel atau gadget.

 

B. Peran Guru dalam Budaya Karakter di Sekolah

Guru memepersiapkan berbagai pilihan dan strategi untuk menanamkan setiap nilai-nilai, norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan ke dalam mata pelajaran yang diampunya. Guru dapat memilih cara-cara tertentu dalam proses pembelajarannya, seperti menyampaikan berbagai kutipan yang berupa kata-kata mutiara atau peribahasa yang berkaitan dengan karakter, cerita pendek, diskusi kelompok, membuat karangan pendek dan sebagainya. Setiap sekolah hendaknya menentukan kegiatan khusus yang dapat mengikat para guru untuk melakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan.

Berikut contoh penerapan keteladan pendidikan karakter di sekolah:

1. Guru secara sadar datang pada jam 06.30 dan pulang jam 1.30, kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan.

2. Sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan.

3. Sekolah memberikan apresiasi pada saat upacara bendera pada hari senin, untuk guru, karyawan dan siswa yang berprestasi. Cara yang dilakukan ini memotivasi setiap guru, karyawan dan siswa untuk meraih prestasi-prestasi tertentu.

4. Sekolah menerapkan Kegiatan Gotong Royong setiap satu semester.

 

C. Peran Masyarakat dalam Pendidikan Karakter

Sekolah bersama komite sekolah dan masyarakat secara bersama-sama menyusun suatu kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya pembudayaan dan penanaman karakter yang baik bagi seluruh warga sekolah kegiatan yang dapat dilakukan antara lain seperti, melakukan gotong royong membersihkan tempat-tempat umum seperti masjid, sungai, dan lainnya. Masyarakat juga memainkan peran tak kalah pentingnya sebagai contoh atau model yang dapat menjadi pendorong keberhasilan para siswa dalam menerapkan nilai norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang baik.

Tokoh tokoh seperti pemangku adat dan ustadz bisa dihadirkan di sekolah untuk mengadakan kegiatan sharing atas kehidupan dan keberhasilan mereka. Keluarga sebagai tempat utama dan pertama peserta didik menjalani kehidupan hendaklah mengawasi dan membimbing dengan penuh kasih sayang, tegas, dan cermat. Guru tidak hanya mengajarkan konsep karakter yang baik, tetapi bagaimana mengarahkan peserta didik untuk dapat mengimplementasikan pada kehidupam sehari-hari. Guru juga sebagai panutan harus menerapkan karakter yang baik pada dirinya sendiri. Masyarakat sekitar juga berperan dalam mengawasi dan memotivasi perkembangan karakter peserta didik Masyarakat juga harus bisa mendukung peran guru dan keluarga dalam membangun karakter peserta didik semakin meningkat, kompleks dan berat.

Peranan orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam artian dukungan atau dorongan untuk keberhasilan sekolah merupakan tiga kompenen penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah. Orang tua yang memberikan dukungan yang kuat kepada anak-anaknya, akan memberikan motivasi dan membuat anak-anak merasa senang, semangat, dan meningkatkan kualitas belajarnya. Tentunya hal ini juga akan berdampak positif kepada guru-guru dalam proses pembelajaran peserta didik. Masyarakat yang senantiasa memberikan dukungan kepada sekolah, akan membuat guru-guru merasa dihargai dan perannya sebagai pendidik dianggap penting. Hal seperti inilah yang diharapkan terwujud.

Penghargaan dan peran guru yang dianggap penting, membuat guru-guru lebih rajin dan penuh semangat dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya. Peranan orang tua, sekolah, dan masyarakat merupakan pra syarat dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Maka seyogianya peranan ketiga pilar pendidikan tersebut semakin diperkuat danl ebih bersinergi, karena pada prinsipnya pendidikan itu adalah tanggung jawab kita bersama. Keluaga, sekolah, dan masyarakat dipandang sebagai institusi yang tidak terpisahkan. Keluarga memiliki hak untuk mengetahui tentang apa saja yang diajarkan guru di sekolah. Sekolah merupakan pranata sosial yang bersistem terdiri dari atas komponenkomponen yang saling terkait dan pengaruh.

 


KESIMPULAN

 

Karakter akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu budaya. Karakter akan lebih bisa dikembangkan dan diarahkan lagi pembentukannya melalui pendidikan yang terencana.

Di era digital ini peran keluarga, guru, dan masyarakat sekitar penting dalam meningkatkan karakter calon penerus bangsa. Oleh karena itu kerjasama yang baik dan harmonis antara 3 pilar ini akan menentukan keberhasilan pembentukan karakter pada anak sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan unggul dan berkualitas.

Sehingga pendidikan karakter merupakan solusi terbaik dalam mengatasi kemunduruan moral bangsa saat ini.

 


                                                    DAFTAR PUSTAKA

 

Wahab Syakhirul Alim, Rabi'ah Rabi;ah, Ahmad Baidawi, Ainu Zumru Diana. Pendidikan Karakter CV. Agrapana Media 2021. Drs. H. Sofyan Tsauri, MM. Pendidikan Karakter (Peluang Dalam Membangun Karakter Bangsa) IAIN Jember Press 2015.                   

Dr.Zubaedi, M.Ag, M.Pd. Pendidikan Karakter (Konsep dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan) Kencana Prenada Media Grup 2011. Sofyan Mustoip, Muhammad       

Jafar, Julela MS. Implementasi Pendidikan Karakter Jahad Publishing: Book and Jurnal 2018. Ni Putu Suwardani. "Quo Vadis" Pendidikan Karakter dalam Merajut Harapan Bangsa yang Bermartabat UNHI Press 2020.

Drs. Dharma Kusuma, M.Pd, Cepi Priatna, S.Pd., Dr.H Johar Permana, M.A. Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktek di Sekolah) PT Remaja Rosdakarya 2018.

Mohammad Feizal Firdaus, MUkhammad Fadhir. Pentingnya Pendidikan Karakter di Era Digital untuk Masa Depan. Paper Seminar Nasional 2019.

Fadilah, Rabi'a, Wahab Syakhirul Alim, Ainu Zumrudiana, Iin Widya Lestari , Achmad Baidawi, Alinea Dwi Elisanti. Pendidikan Karakter. CV. Agrapana Media 2021.

Akhtim Wahyuni. Pendidikan Karakter. Umsida Press 2021.

I Putu Windu Mertha Sujana, Sukadi, I Made Riyan Cahyadi, Ni Made Widya Sari.  pendidikan karakter untuk generasi digital native. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 2 (Mei, 2021)

Muzhoffar Akhwan. Pendidikan Karakter:Konsep dan Implementasinya Dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah.

 

ETS MAKRO

  UNIVERSITAS TEKNOLOGI DIGITAL BANDUNG   FAKULTAS MANAJEMEN INOVASI WINDY YUL...